Volunteer Dedikasi Sumbawa
← Journal
exploration29 October 2026

Volunteer Dedikasi Sumbawa

#volunteer#holiday#sumbawa

Sebuah perjalanan pengabdian masyarakat di Desa Kertasari, Sumbawa, bersama NGO Dedikasi Nusantara. Selama hampir satu bulan, saya hidup bersama masyarakat pesisir, menjalankan program lingkungan, mengajar anak-anak SD, membangun fasilitas desa, hingga menemukan banyak cerita kecil yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya

Perjalanan Panjang Menuju Sumbawa

Tanggal 25 Desember menjadi awal dari perjalanan panjang itu. Pagi hari saya berangkat dari Malang menggunakan motor menuju Jember untuk bertemu tim dan panitia yang berangkat lebih dulu. Jalanan terasa panjang, tetapi ada perasaan aneh yang membuat semuanya terasa ringan — campuran antara penasaran, takut, dan antusias karena akan pergi sejauh itu untuk pertama kalinya.

Setelah berkumpul di Jember, kami melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi untuk menyeberang ke Lombok. Di atas kapal, suasananya berubah menjadi hangat. Kami duduk di sudut kapal sambil mengobrol tentang banyak hal; tentang program yang akan dijalankan, tentang bagaimana kehidupan di Sumbawa nanti, sampai bercanda hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Di tengah obrolan itu, matahari perlahan turun di balik laut. Langit berubah jingga, angin laut terasa dingin, dan untuk beberapa saat semuanya terasa tenang sekali.

Malam, Hujan, dan Jalan Panjang di Lombok

Kami tiba di Lombok sekitar pukul dua dini hari. Tidak ada waktu untuk benar-benar beristirahat karena perjalanan masih jauh. Motor kembali dinyalakan, dan kami mulai mengitari Lombok menuju pelabuhan berikutnya. Jalan malam terasa sunyi, hanya suara mesin motor dan angin yang menemani perjalanan.

Belum lama berjalan, hujan turun cukup deras. Kami akhirnya berhenti di sebuah masjid kecil di pinggir jalan. Karena terlalu lelah, kami memutuskan tidur di sana sambil menunggu subuh. Lantai masjid yang dingin malam itu justru terasa nyaman karena tubuh sudah benar-benar kehabisan tenaga.

Pagi harinya, sekitar jam enam, perjalanan kembali dilanjutkan. Tetapi hujan kembali turun saat matahari mulai naik. Kami kembali meneduh cukup lama sampai siang sebelum akhirnya bisa melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa. Anehnya, justru bagian-bagian perjalanan seperti itu yang sekarang paling sering saya ingat. Bukan karena nyamannya, tetapi karena di situlah perjalanan terasa benar-benar hidup.

Desa Kertasari dan Hari-Hari Pertama

Kami tiba di Sumbawa tanggal 26 Desember dan sempat tinggal di rumah singgah sebelum akhirnya menuju Desa Kertasari. Desa itu terasa tenang. Udara pantainya berbeda dengan kota, lebih lambat, lebih sunyi, dan terasa jauh dari hiruk pikuk yang biasa saya lihat sehari-hari.

Hari-hari pertama diisi dengan mencari posko dan menyiapkan program kerja. Sebagai fasilitator divisi lingkungan, tugas saya bukan hanya menjalankan program, tetapi juga membantu anggota menyusun konsep kegiatan, memvalidasi ide, hingga memikirkan bagaimana program itu benar-benar bisa dijalankan di lapangan. Tanggal 30 Desember kami akhirnya mendapatkan posko dan mulai benar-benar menetap di sana.

Anak-Anak SD dan Kerang dari Pantai

Volunteer mulai datang tanggal 3 Januari. Hari pertama kami habiskan dengan berjalan menyusuri pantai untuk mencari kerang. Kerang-kerang itu nantinya akan digunakan untuk salah satu program edukasi kami di sekolah dasar.

Pagi berikutnya kami datang ke SD dan mengajar siswa kelas lima membuat gantungan kunci dari kerang. Anak-anak itu terlihat sangat antusias. Mereka mengecat kerang dengan warna-warna cerah, tertawa saat cat mengenai tangan mereka sendiri, dan sibuk menunjukkan hasil karya masing-masing. Di tengah kegiatan itu saya sadar bahwa hal sederhana pun bisa terasa sangat berarti ketika dilakukan bersama orang-orang yang benar-benar menikmatinya.

Membangun Sesuatu dengan Tangan Sendiri

elain mengajar, kami juga menjalankan program lingkungan seperti membuat tempat sampah dan plang penunjuk arah menuju pantai dan area produksi rumput laut. Semua dibuat sendiri dari awal. Kami memotong bambu langsung dari kebun, membelahnya satu per satu, merakit, memaku, hingga mengecatnya bersama-sama.

Prosesnya melelahkan, apalagi di bawah panas matahari dan dengan alat seadanya. Tetapi ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika melihat bambu-bambu yang awalnya hanya batang biasa perlahan berubah menjadi sesuatu yang benar-benar berguna untuk desa.

Pantai, Mangrove, dan Banyak Orang Baik

Kami juga mengadakan beach clean up bersama anak-anak SD. Supaya tidak terasa seperti kerja bakti biasa, kegiatan dibuat seperti permainan kecil lengkap dengan challenge dan hadiah sederhana. Pantai yang awalnya penuh sampah perlahan terlihat lebih bersih sambil diiringi suara tawa anak-anak yang berlarian di pasir.

Beberapa hari setelahnya kami melakukan penanaman lebih dari seratus bibit mangrove bersama puluhan volunteer. Melihat banyak orang dari daerah yang berbeda bekerja bersama di bawah panas matahari membuat saya sadar kalau kadang hal baik memang lahir dari orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak saling mengenal.

Market Day dan Malam yang Tidak Akan Saya Lupakan

Dari semua kegiatan yang ada, Market Day menjadi momen yang paling membekas. Kami mengumpulkan UMKM lokal, hasil karya volunteer, dan gantungan kunci buatan anak-anak SD yang sebelumnya kami ajarkan. Anak-anak itu akhirnya belajar bahwa barang yang mereka buat sendiri benar-benar bisa dijual dan dihargai orang lain.

Acara diadakan di Living on Air, tempat dekat pantai yang sering dikunjungi wisatawan asing untuk surfing. Volunteer dari berbagai daerah membawa makanan khas masing-masing. Ada makanan dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Barat, dan banyak daerah lainnya. Meja panjang penuh makanan itu membuat suasana terasa seperti pertemuan banyak budaya dalam satu tempat kecil di pinggir pantai Sumbawa.

Ada fashion show pakaian adat, penampilan tari tradisional desa, karaoke, dan sesi joget bersama. Yang membuat semuanya terasa lebih spesial adalah ketika wisatawan asing ikut bergabung. Mereka ikut bernyanyi, menari, bahkan menyumbangkan lagu karaoke. Kami tertawa bersama orang-orang yang bahkan berbeda bahasa dan negara. Tetapi malam itu rasanya semua orang memahami satu hal yang sama: bahagia.

Hujan yang Datang Setelah Semua Selesai

Sore sebelum Market Day dimulai, langit sebenarnya sudah sangat gelap. Kami beberapa kali melihat ke atas dan khawatir hujan akan membatalkan seluruh acara. Tetapi anehnya, selama acara berlangsung hujan tidak turun sama sekali.

Baru setelah semua selesai, saat orang-orang mulai pulang dan dekorasi mulai dibereskan, hujan turun cukup deras. Kami hanya bisa tertawa sambil berlari kecil menghindari air hujan. Setelah hujan reda, kami berjalan pulang menuju posko dan di depan pantai Living on Air, langit tiba-tiba berubah menjadi jingga keemasan. Sunset muncul begitu indah setelah hujan. Mungkin beberapa perjalanan memang tidak datang untuk sekadar dikunjungi. Ada perjalanan yang datang untuk tinggal lebih lama di dalam ingatan.

Penutup di Bukit Merese

Sebelum pulang, kami sempat pergi ke Lombok dan mengunjungi Bukit Merese. Bukit hijau itu berdiri tepat di tepi laut dengan angin yang terus bergerak pelan. Pagi hari di sana terasa sangat tenang, seperti memberi ruang untuk mengingat kembali semua hal yang sudah terjadi selama beberapa minggu terakhir.

Kami juga mengunjungi Desa Sade, desa adat di Lombok yang masih mempertahankan rumah dan tradisinya sampai sekarang. Di sana saya belajar bahwa beberapa tempat tetap memilih berjalan pelan di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Perjalanan itu akhirnya selesai. Tetapi sampai sekarang, setiap mengingat Sumbawa, yang paling saya ingat bukan hanya tempatnya — melainkan orang-orangnya, cerita kecilnya, dan perasaan hangat yang tertinggal setelah semuanya berakhir.