
Sebuah perjalanan panjang dari Kediri menuju Merbabu, Jogja, hingga Sarangan bersama teman-teman. Perjalanan ini bukan hanya tentang mendaki gunung, tetapi tentang jalan panjang dengan motor, malam dingin di desa, obrolan kecil di perjalanan, hujan, sunrise, kopi di Malioboro, sampai momen sederhana yang justru paling lama tinggal di ingatan.
Dari Malang Menuju Sebuah Perjalanan Panjang
Perjalanan dimulai dari Malang ketika saya berangkat menuju Kediri untuk bertemu teman-teman pendakian lainnya. Kami mendaki berempat. Malam sebelum keberangkatan kami berkumpul di rumah salah satu teman, duduk santai sambil membahas banyak hal — mulai dari logistik, rencana perjalanan, sampai bercandaan tentang siapa yang nanti paling banyak mengeluh saat naik gunung. Suasana malam itu terasa hangat dan sederhana. Tidak ada yang mewah, hanya obrolan kecil dan rasa antusias sebelum memulai perjalanan yang bahkan belum benar-benar kami tahu akan seperti apa nantinya.
Motor, Sawah, dan Jalan Menuju Magelang
Paginya kami berangkat menggunakan motor menuju Magelang. Jalan terasa panjang, tetapi justru di situlah letak serunya. Kami melewati banyak kota, berhenti beberapa kali untuk istirahat, dan menikmati perjalanan tanpa terburu-buru. Siang harinya kami makan di sebuah warung kecil di pinggir sawah. Hamparan hijau terbentang luas di depan mata, angin sawah terasa pelan, dan suasana terasa sangat tenang. Setelah makan kami mampir ke swalayan untuk membeli logistik seperti beras, roti, snack, dan bahan makanan lainnya untuk persiapan di gunung nanti.
Malam Berkabut di Desa Suwanting
Kami sampai di basecamp Merbabu via Suwanting sore hari. Setelah mandi dan menyewa perlengkapan pendakian seperti carrier, tenda, dan sleeping bag, malam harinya kami berjalan mengelilingi desa. Kabut turun cukup tebal dan udara dingin terasa menusuk sampai ke tangan. Lampu rumah warga terlihat samar di balik kabut, membuat suasana desa terasa tenang dan sedikit dramatis. Tidak banyak yang kami lakukan malam itu selain berjalan santai dan menikmati suasana sebelum akhirnya kembali ke basecamp untuk beristirahat.
Perjalanan Menuju Puncak
Pagi harinya kami memulai pendakian Merbabu via Suwanting. Setelah briefing dan pengecekan logistik, perjalanan dimulai sekitar jam sembilan pagi. Kami berjalan bersama dengan ritme santai, sesekali berhenti untuk minum atau menunggu teman yang tertinggal. Di tengah perjalanan kami sempat bertemu burung gunung kecil yang berjalan mengikuti jalur pendaki. Hal kecil seperti itu justru menjadi salah satu momen yang paling saya ingat. Semakin sore jalur terasa semakin berat, tetapi pemandangan yang mulai terbuka perlahan membuat rasa lelah terasa terbayar.
Sunset, Tenda, dan Nasi Gagal
Sekitar sore hari kami sampai di area camp. Setelah mendirikan tenda, kami menikmati sunset dan lautan awan yang muncul perlahan di depan gunung-gunung lain. Walaupun cuaca sedikit mendung, suasananya tetap terasa indah dan tenang.
Malamnya kami memasak bersama. Kami mencoba memasak nasi menggunakan kompor gunung untuk pertama kalinya dan hasilnya gagal total. Nasinya memang matang, tetapi bentuk dan rasanya jauh dari kata sempurna. Kami malah tertawa sambil tetap memakannya karena sudah terlalu lapar. Malam itu kami habiskan dengan bercerita di depan tenda sambil menikmati udara dingin Merbabu sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.
Sunrise di Atas Lautan Awan
Jam tiga pagi kami bangun untuk summit attack. Jalur menuju puncak cukup menanjak dan menguras tenaga, tetapi perlahan langit mulai berubah warna ketika pagi datang. Sekitar pukul lima pagi kami sampai di puncak Triangulasi lalu melanjutkan ke Kenteng Songo untuk melihat sunrise. Lautan awan terbentang luas di bawah, sementara Gunung Merapi terlihat berdiri gagah dari kejauhan. Kami berfoto bersama, berbincang dengan pendaki lain dari berbagai daerah, bahkan ada beberapa pendaki asing yang ikut menikmati pagi itu.
Lucunya, salah satu teman kami sempat hilang cukup lama dan membuat kami panik mencarinya di sekitar puncak. Ternyata dia hanya tertinggal jauh di belakang dan muncul dengan santainya ketika matahari sudah mulai naik.
Turun Gunung Bersama Hujan
Setelah turun dari puncak, kami kembali ke camp dan mencoba memasak nasi lagi. Kali ini berhasil sempurna. Kami makan ayam, nugget, dan nasi hangat sebelum mulai beres-beres untuk turun gunung. Namun perjalanan turun berubah cukup dramatis ketika hujan turun deras di sekitar pos dua. Kami berjalan cukup lama dalam keadaan kehujanan sambil berusaha tetap cepat karena tidak ingin terlambat sampai pos pengecekan sebelum jam empat sore. Walaupun capek dan basah kuyup, justru momen seperti itu yang akhirnya paling sering kami ceritakan kembali setelah perjalanan selesai.
Jogja dan Malam di Malioboro
Setelah turun gunung kami tidak langsung pulang. Karena Magelang cukup dekat dengan Jogja, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke sana. Pagi hari kami sarapan di Pasar Beringharjo sebelum check-in penginapan dan beristirahat sejenak. Malam harinya kami berjalan di Malioboro, duduk santai sambil ngopi, melihat jalanan Jogja yang ramai, dan menikmati suasana kota yang terasa hidup bahkan sampai larut malam. Kami juga membeli oleh-oleh dan sempat berdebat cukup lama tentang apakah perjalanan harus diperpanjang atau cukup satu malam saja di Jogja.
Singgah ke Sarangan Sebelum Pulang
Pada akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan pulang, tetapi belum benar-benar ingin mengakhiri trip ini. Dalam perjalanan menuju Kediri kami singgah lagi ke Sarangan dan menginap semalam di sana.
Perjalanan menuju Sarangan melewati kawasan Gunung Lawu yang terlihat megah dari kejauhan. Kami menghabiskan malam dengan berjalan di sekitar telaga, menikmati udara dingin, dan makan sate kelinci yang menjadi ciri khas daerah itu. Paginya kami kembali menikmati suasana telaga sebelum akhirnya benar-benar pulang ke Kediri dengan perjalanan yang aman dan penuh cerita. Kadang sebuah perjalanan terasa spesial bukan karena tempatnya saja, tetapi karena orang-orang di dalamnya, obrolan kecil selama perjalanan, dan momen-momen sederhana yang ternyata bertahan paling lama di kepala.